Saturday, February 25, 2012

Perempuan Tanpa Masa Lalu

Aku tahu, saat ini kau pasti sedang membakar semuanya. Semua pemberianku selama ini: surat-surat itu, buku-buku hadiah ulang tahunmu, beberapa sobekan tiket bioskop, kepingan CD rekaman lagu, gantungan kunci, gelang.... semuanya. Aku tahu sekarang kau sedang membakarnya di halaman belakang rumahmu, di mana aku pernah menyaksikan upacara kremasi terhadap masa lalumu yang lain. Aku tahu kau sedang membakar semuanya, membiarkan semua itu jadi abu dan berlalu bersama waktu yang kian petang. Aku tahu kau sedang melakukannya dengan tenang, tanpa air mata dan sedikitpun penyesalan. 

Sementara aku di sini menghisap rokokku dalam-dalam, memandangi kertas surat berwarna coklat tua yang tertempel di dinding kamarku, serta sepasang sepatu berwarna biru, yang menjadi penyebab segala kecewamu. Siapa yang salah? Entah. Mungkin ini salahku, karena terus saja menyimpan dua benda itu, apalagi meletakkannya bersama dengan benda-benda pemberianmu. Mungkin ini juga salahmu, yang selalu melarangku membuangnya jika hanya demi dirimu, tapi kecewa saat tahu jika bukan demi dirimu, maka benda itu akan tetap berada di sana. Kau menginginkanku untuk membuangnya atas keinginanku sendiri, padahal kau tahu betul, aku tak pernah ingin membuangnya. Bukan karena aku masih mencintai perempuan itu-perempuan yang memberiku benda-benda itu, melainkan karena aku tak pernah punya masalah dengan keberadaan benda-benda dari masa lalu, sehingga aku pun masih menyimpannya sampai sekarang, hanya untuk sesekali mengenang segala yang pernah kulalui, kemudian melampauinya, tanpa meninggalkan bekas-bekas yang tak pernah tuntas.

Berbeda denganmu, yang memang sejak dulu selalu melenyapkan semua benda peninggalan masa lalumu, segera setelah semuanya berakhir. “Aku ingin menjalani hari-hari setelahnya sebagai orang yang benar-benar baru, aku tak membutuhkan benda-benda seperti itu. Masa lalu cukup kusimpan dalam ingatan. Lagipula, aku tak ingin menyakiti orang yang sekarang bersamaku,” ucapmu padaku.
Aku ingat ketika suatu hari kau sibuk mencari surat-surat yang kau tujukan untuk mantan kekasihmu-surat-surat yang tak pernah kau kirimkan itu, dan ternyata ia kutemukan di antara halaman bukumu yang sedang kubaca. Kau langsung merebutnya. Aku bilang aku ingin membacanya. Kau bertanya apakah aku yakin. Aku menjawab ya. Kau memberikannya padaku sambil berkata “Jangan lama-lama, setelah selesai kau baca aku akan segera membakarnya.” Aku berkata kau tak perlu membakarnya karena aku, aku tak pernah cemburu pada hal-hal seperti ini. Kau bilang semua itu demi dirimu sendiri. 

Tenggelam - Raisa Kamila
Dan memang benar, setelah aku selesai membacanya, kau segera memasukkan surat-surat tak terkirim itu ke dalam sebuah kaleng biskuit yang tampak hangus di sana sini, seperti sebuah tanda bahwa ia sudah biasa kau gunakan sebagai tempat kremasi masa lalumu yang sebelumnya. Kemudian kau memasukkan minyak tanah, dan membakarnya di hadapanku. Semua itu kau lakukan dengan tenang, sangat tenang. Tak tampak penyesalan sedikitpun pada raut wajahmu yang tegas. Semua datar, seperti tidak sedang kehilangan apapun. Aku sendiri hanya berdiri mematung melihat itu semua. 

Aku tak pernah bisa mengerti mengapa kau harus selalu mengambil keputusan-keputusan yang ekstrim dalam berbagai hal, seolah-olah jalan tengah memang tak pernah ada dalam kamus hidupmu. “Segalanya atau tidak sama sekali,” kalimat itulah yang selalu kau andalkan untuk menyuruhku berhenti bertanya. Aku tetap saja masih tak bisa mengerti. Sama seperti dirimu yang tak pernah bisa mengerti mengapa aku selalu menghindari konfrontasi, meskipun karena itu terkadang aku seperti diharuskan mengambil jalan memutar. Bagimu, konfrontasi adalah bagian dari risiko jika kita ingin mempertahankan prinsip. Yah, dalam hal ini kita memang selalu gagal untuk saling memahami. 

Aku begitu yakin, ketika kau selesai dengan upacara kremasimu sore ini, selanjutnya kau akan mengganti namaku di buku telepon ponselmu dengan nama biasa, tak ada lagi panggilan istimewa. Aku yakin sekali. Kemudian keesokan harinya kau akan memotong rambutmu, menggantinya dengan model baru yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya serta mengubah gaya berpakaianmu. Kau berusaha untuk terlahir kembali, meletakkan dirimu yang dulu bersamaku pada keranjang masa lalu. Begitulah caramu mengakhiri sesuatu, selalu begitu. Kau adalah perempuan tanpa masa lalu, atau setidaknya, kau berusaha untuk menjadi seperti itu. Bagimu masa lalu hanya akan melahirkan luka-luka berkepanjangan yang tak akan membawamu ke mana-mana selain pada tangisan-tangisan yang tak bisa kau hentikan setiap malamnya. 

Kertas surat berwarna coklat tua itu masih terletak pada tempatnya semula, seperti sejak pertama kali kau mempermasalahkannya. Pada pertengkaran besar itu, aku berkata bahwa nanti surat itu akan kusimpan di tempat yang tidak terlihat, sehingga ia tidak akan membangkitkan kesedihanmu lagi. “Kesedihanku akan kusimpan juga di tempat yang tidak terlihat...” katamu menjawab tawaranku. Aku memohon padamu jangan bersikap seperti itu. Namun kau tetap bersikeras hanya itu yang dapat kau lakukan, hanya itu yang dapat kita lakukan, kita sembunyikan saja semuanya masing-masing. Aku terdiam. Kita saling terdiam. Aku kehabisan cara untuk membuatmu percaya bahwa surat itu hanyalah benda, yang tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan rasa cintaku padamu. Aku kehabisan cara untuk membuatmu mengerti bahwa tidak semua orang memperlakukan masa lalu sebagaimana dirimu memperlakukannya. Aku putus asa. “Kamu lelah?” suaramu memecah kesunyian. Aku menjawab ya. “Baiklah, aku pun lelah,” ucapmu sambil berlalu. Tanpa banyak bertanya pun aku mengerti, bahwa kau tak akan pernah kembali lagi.

Yogyakarta, 18 Januari 2012

Saturday, February 18, 2012

Cerita 5: Lotek dan Ingatan Tentang Kakek

Aku sedang duduk sendirian menunggu pesananku datang, ketika kulihat seorang laki-laki berusia lima puluhan masuk ke warung ini kemudian memesan dua porsi lotek untuk dibawa pulang. Ia minta keduanya dibuat pedas sedang saja serta diberi kerupuk lebih banyak dari porsi biasa. Persis seperti apa yang selalu aku pesan, termasuk pada saat ini. Aku yang sedikit banyak percaya pada reinkarnasi dan hal-hal semacam itu menjadi terusik dengan kehadiran kakek ini. Ia langsung mengingatkanku pada mendiang kakekku. Dulu, ketika aku masih kecil aku tidak terlalu suka makan sayur, padahal jelas itu penting untuk pertumbuhan anak-anak seusiaku. Kakekku punya cara tersendiri untuk membujukku memakan sayur-sayur itu.

Setiap ada kesempatan menjemputku pulang dari sekolah, ia selalu mengajakku mampir ke warung lotek langganannya yang terletak tak jauh dari rumah. Ia membelikanku seporsi lotek yang dibuat pedas sedang saja dengan kerupuk yang banyak, karena ia tahu aku suka pedas dan sangat menyukai kerupuk. Sejak perkenalan pertamaku dengan lotek itulah, entah kenapa sayuran jadi terasa enak bagiku. Lotek dengan rasa bumbu kacang yang sedikit pedas serta kerupuk yang banyak selalu berhasil membuatku lupa akan ke-tidak-enak-an sayuran dan mau memakannya. Saat ini, meskipun kakekku sudah lama meninggal dunia dan warung lotek itu pun sudah tidak ada lagi, serta pacarku sering mencandaiku dengan berkata bahwa baginya lotek mirip dengan makanan ternak, namun lotek tetap menjadi salah satu makanan kesukaanku, makanan yang bisa sedikit mengobati rinduku pada kakek, makanan yang selalu membuatku merasa dekat dengannya.

PS: Jika ternyata kakek bisa membaca tulisanku ini entah bagaimana caranya, aku hanya ingin berkata bahwa aku selalu merindukan kakek. Aku selalu membayangkan perbincangan-perbincangan hangat yang mungkin saja terjadi di antara kita seandainya kakek masih hidup sampai saat ini dan bertemu dengan diriku yang sekarang: diriku yang sehat dan bahagia. Semoga kakek pun bahagia di manapun kakek berada ya, aku sayang padamu, kek :’)


*tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis "Makanan dan Kenangan" yang diselenggarakan oleh http://www.kenyangbego.wordpress.com pada bulan Februari 2012.

Thursday, February 16, 2012

Cerita 4: Suatu Sore Yang Persis Seperti (Sore) Ini

Pernahkah kalian merasakan sebuah suasana yang sama persis seperti apa yang pernah kalian rasakan jauh sebelumnya? Bukan, bukan seperti de ja vu yang persamaannya terletak pada peristiwa, melainkan perasaan nostalgik yang terletak pada suasananya: ruang dan waktu. Jika ya, mungkin apa yang kalian rasakan sama seperti apa yang kurasakan sore tadi, ketika langit begitu cerah, cahaya matahari perlahan mulai meredup, suara adzan ashar berkumandang, dan aku sedang tidak melakukan apa-apa. Rasanya hidup ini seperti mendapatkan jedanya untuk sekedar kembali teringat pada suasana yang persis sama kira-kira empat belas tahun silam.


Pada masa itu, aku yang berusia tujuh tahun selalu menanti-nanti datangnya sore hari, karena saat itulah saat yang paling menyenangkan untuk bermain bersama teman-teman. Cuaca cerah dan udara yang sejuk merupakan kombinasi sempurna untuk bermain di luar rumah, apalagi sesi tersebut merupakan tanda bahwa sesi-yang-tidak-menyenangkan sebelumnya telah berakhir (baca: sesi tidur siang). Ya, entah kenapa saat itu aku selalu membenci tidur siang.

 

Biasanya aku selalu mengawali sesi bermain sore itu dengan mandi terlebih dahulu, kemudian entah bagaimana, aku dan teman-temanku selalu saja bisa keluar rumah secara hampir bersamaan, untuk kemudian duduk-duduk di jalan kecil komplek perumahan kami. Ada macam-macam permainan yang biasa kami mainkan, semua tergantung pada musimnya. Pernah kami begitu gemar bermain lompat tali, namun pernah juga kami tak dapat berhenti bermain engklek (saya tidak tahu istilah bahasa Indonesianya), pernah pula kami hanya sekedar bermain bola bekel dan kelereng, atau naik sepeda menuju lapangan di sebelah masjid kemudian memanjat pohon jambu biji dan memakan buahnya.

Aktivitas berkumpul dan bermain di sore hari itu selalu menjadi agenda yang menyenangkan bagiku, rasanya hidup begitu ringan tanpa beban. Saat itu yang aku tahu hanyalah menghabiskan waktu dengan bermain, bahkan yang selalu membuatku bersemangat berangkat ke sekolah bukanlah pelajarannya, melainkan kesenangan saat bermain bersama teman-teman. Sore tadi aku merasakan kembali suasana itu, suasana yang membawa ingatanku pada perasaan bahagia kala itu. Perasaan yang semestinya tetap kujaga hingga saat ini dengan lebih banyak bersyukur. Mungkin aku yang sekarang memang sudah sangat jauh berbeda dengan aku empat belas tahun lalu, ibarat kertas, saat ini tentu saja sudah banyak coretan atau bahkan koyak, sobek  dan berlubang di sana-sini. Namun aku senang, setidaknya aku sempat merasa terlepas dari segala beban hanya dengan mengingat suatu sore yang persis seperti (sore) ini.

Monday, February 13, 2012

Pagi Yang Terulang Kembali

“Besok pagi hujan tidak ya?” tanyamu malam itu. Aku diam sejenak, berpikir. Kulihat pandangan matamu bergerak ke arah jendela yang tertutup rapat.

“Mungkin saja. Cuaca memang sudah tidak memiliki musim, bukan?” jawabku.

“Hmm... ya, betul juga. Tapi aku butuh jawaban yang pasti, apakah besok pagi hujan atau tidak. Bukan jawaban seperti ‘mungkin’.” sanggahmu kemudian, seperti tak puas dengan jawabanku.

“Aku tidak tahu, sayang. Tak ada yang bisa memastikan hal-hal seperti itu. Lagipula, mengapa kau sangat butuh tahu?” tanyaku.

“Aku ingin memastikan sesuatu....” kata-katamu seperti sengaja kau hentikan, kerling matamu menandakan bahwa kau ragu untuk melanjutkan.

“Memastikan apa?” ucapku tepat sasaran.

“Mmmm.... memastikan bahwa hujan akan selalu turun bersama kesedihan....” jawabmu.

“Kata siapa? Bukankah hujan selalu turun sebagai berkah?” ucapku sambil mengernyitkan dahi, tak mengerti apa maksudmu.

“Nenekku pernah berkata seperti itu saat aku masih kecil. Katanya, alam semesta memiliki keterikatan yang kuat dengan sebagian orang, termasuk orang-orang dari keluarga kami.” kau menjelaskan.

“Oh ya? Memangnya besok siapa yang kira-kira akan bersedih, sehingga hujan mungkin saja datang?” tanyaku penasaran, masih belum dapat memahami maksudmu yang sebenarnya.

“Tidak tahu. Aku hanya bertanya saja. Ah sudahlah, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur kan?” ucapmu sambil beranjak, mengakhiri pembicaraan. Lalu kita telah sama-sama berada pada satu ranjang, bersiap untuk tidur. Aku mencium keningmu, kau memelukku. Tak lama kemudian aku tahu kau telah terlelap, sedangkan aku justru larut dalam pikiranku sendiri.

Semuanya seperti berjalan begitu cepat, mulai dari pertama kali aku mengenalmu, tragedi besar itu, kemudian ketika kita memutuskan untuk tinggal bersama, meskipun tanpa ikatan bernama pernikahan. Kau yang dulu begitu rapuh, begitu hancur dan seolah tak mempunyai harapan pada apapun, lambat laun dapat menerima kehadiranku-seseorang yang telah lama mencintaimu. Bersamaku kau mencoba menata ulang hidupmu, setelah kehilangan begitu banyak hal, termasuk kekasih yang sangat kau cintai.

Kau yang dulu begitu menyesali bencana yang menimpa keluarga dan kekasihmu itu, sehingga duniamu menjadi begitu gelap, begitu pekat, seolah keriangan tak lagi mendapat tempat. Kemudian kita berdua yang sama-sama membangun kembali dunia yang bisa kau percaya, yang mampu menumbuhkan kembali cahaya kehidupan di matamu. Serta aku yang terus berusaha meyakinkanmu bahwa kau tak perlu mencoba terlalu keras untuk belajar membalas cintaku, dan bahwa semua itu kulakukan semata-mata karena aku tulus mencintaimu. Kemudian pelan-pelan kau belajar untuk balas mencintaiku dan mengobati luka-luka masa lalumu. Hingga akhirnya kau benar-benar yakin bahwa kau telah sembuh. Sepenuhnya sembuh.

Jendela Pagi Hari - Ipul Bachri
Ya, semuanya seperti berjalan begitu cepat. Terkadang aku masih merasa aku sedang bermimpi, dan tak tahu kapan petir akan datang menghampiri. Tahun-tahun yang kita lalui itu, seperti guguran daun-daun yang tersapu begitu saja oleh angin, mengendap pada sudut-sudut taman, kemudian lapuk bersama hujan. Dan tahu-tahu sudah ada lagi daun-daun lain yang berguguran.

Pikiranku melayang, membuat mataku tak kunjung dapat terpejam, meski rasa lelah demikian nyata bersarang dalam sendi-sendi tubuhku. Entah mengapa, kata-katamu tentang hujan dan kesedihan seperti sekelebat malaikat yang memberi tanda bahwa mimpi ini akan segera terjaga. Namun kesedihan siapakah yang hendak mendatangkan hujan? Kau tampak begitu bahagia setelah melewati tahun-tahun yang seperti daun gugur itu. Kau sehat, bersemangat, dan optimis menghadapi hidup. Kau memiliki pekerjaan yang sangat kau sukai sebagai seorang pelukis, yang selalu kau jalani dengan gembira. Begitupun aku, yang selalu bahagia saat melihatmu bahagia. Hidup kita nyaris sempurna, seolah dunia yang kita tinggali merupakan bagian terpisah dari dunia di luar sana. Acuh terhadap apapun selain prinsip kita yang sederhana: selama tak merusak kebahagiaan orang lain, kita berhak melakukan apa saja. Begitupun dengan pernikahan, kita sama-sama sepakat bahwa cinta yang diberikan Tuhan tak harus bermuara pada lembaga-lembaga buatan manusia seperti pernikahan. Kita manusia bebas.

Namun sekali lagi, aku pun tak mengerti mengapa kata-katamu tentang hujan dan kesedihan demikian menghantui. Apalagi belakangan ini kau memang sering melukis hujan, aku melihatnya saat mengintip ruang kerjamu diam-diam. Apa gerangan yang sedang kau pikirkan, kekasih? Aku mencoba mencari jawabannya di wajahmu, wajahmu yang lugu itu. Aku mencoba mengingat lagi sorot matamu, dan apa yang terpantulkan olehnya. Aku mengamati kau yang sedang tertidur di sampingku, memberikan belaian lembut pada rambutmu yang tak pernah kau biarkan tumbuh panjang melewati tengkuk. Kemudian kau bergumam pelan: “Hujan akan datang”. Aku terkejut dan bertambah takut, namun akhirnya kegelapan menyelimuti mataku. Kantuk telah mengalahkan keresahan, membawaku tidur bersama tanda tanya besar.

Hari ini, aku mengenang kembali semua itu. Masih di ruangan yang sama ketika percakapan terakhir kita terjadi. Percakapan tentang hujan dan kesedihan. Namun kali ini aku sendirian, tak ada lagi percakapan-percakapan yang kita lakukan setelah malam itu, karena keesokan harinya, kau telah pergi bersamaan dengan hujan yang datang perlahan. Meninggalkan secarik kertas yang hanya bertuliskan satu kalimat: belajar mencintai seseorang ternyata mustahil, maka belajarlah mencari seseorang yang benar-benar jatuh cinta padamu. Aku pun mengerti mengapa hujan datang di pagi itu...... Namun satu hal yang tak kunjung kumengerti hingga saat ini, kesedihan siapakah yang membuatnya datang pagi itu? Kesedihanmu? Kesedihanku? Karena sejak saat itu pun aku selalu menangis di pagi hari, bersamaan dengan hujan yang datang berulang-ulang.

Yogyakarta, 8 Desember 2011

Sunday, February 12, 2012

Negara Gagal

Film “Indonesiaku Di Tepi Batas” karya Elsa Adelina L yang saya saksikan di Festival Film Dokumenter ke 10 tahun 2011 ini mengingatkan saya pada isu separatisme di Indonesia yang belakangan kian merebak. Dalam film tersebut, diceritakan bagaimana masyarakat di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia hidup sebagai Warga Negara Indonesia yang lebih banyak “bergaul” ke Malaysia. Meskipun tema tersebut sudah banyak dibahas melalui berbagai media, namun film ini berhasil menyajikan realita tanpa terjebak pada framing yang cengeng.

Masyarakat yang hidup di sana baru mengetahui bahwa mereka merupakan bagian dari NKRI setelah sekian puluh tahun Indonesia merdeka, itupun ketika mereka menerima “bantuan” berupa bendera merah-putih dari pemerintah, menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia beberapa tahun lalu. Film ini membawa kembali ingatan saya ketika saya melakukan penelitian lapangan di Kayu Ara, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat setahun yang lalu. Ingatan tentang bagaimana infrastruktur di sana yang begitu buruk, harga kebutuhan pokok yang mahal, listrik dan air bersih yang tak kunjung tersedia, serta akses terhadap berbagai hal yang demikian terbatas.

Ada satu pernyataan dalam film tersebut yang diam-diam saya amini, yaitu bahwasanya tuntutan masyarakat perbatasan mengenai peningkatan kesejahteraan hidup tersebut merupakan sesuatu yang sangat wajar. Bukan berarti mereka hanya mampu menuntut saja pada pemerintah, tapi kalau tidak berharap pada pemerintah, mereka harus berharap pada siapa lagi? Jika hubungan negara-rakyat dianalogikan sebagai relasi orang tua dengan anak-anaknya, bukankah sangat wajar ketika anak meminta kebutuhan hidupnya pada orang tua? Dan bukankah itu merupakan hak mereka sebagai anak serta merupakan tanggung jawab negara sebagai orang tua? Bukan berarti masyarakat lantas tidak melakukan apapun, mereka bahkan telah banyak bekerja keras untuk hidup setiap harinya, dengan keringat mereka sendiri.

Di sini saya bukan hendak menyudutkan pemerintah, hanya saja, coba kita sisihkan waktu sejenak untuk berpikir masak-masak sebelum melontarkan slogan heroik seperti “Jangan tanyakan apa yang bisa negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang bisa kau berikan untuk negaramu.” Bagi saya, slogan tersebut tak lebih dari sekedar pembelaan atas kegagalan negara untuk mengurus rakyatnya sendiri. Mari kita ingat juga bagaimana Indonesia pernah demikian gencar menggalakkan program Keluarga Berencana pada masa Orde Baru, bukankah asumsi pemerintah tentang hubungan kesejahteraan hidup dengan jumlah anak dapat kita kembalikan lagi dalam tataran yang lebih besar? Pada saat itu muncul premis umum bahwa keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang memiliki sedikit anak. Nah, sekarang bagaimana dengan negara yang sejahtera? Bukankah negara dengan kemampuan minim juga sebaiknya sadar diri dan memiliki sedikit rakyat saja?

Dalam relasi orang tua-anak, mungkin memang tidak pernah ada istilah mantan-anak maupun mantan-orang tua, namun bagaimana dengan negara? Indonesia jelas tidak pernah melahirkan pulau-pulau atau kerajaan-kerajaan yang sekarang menjadi bagian dirinya, mereka sudah ada jauh sebelumnya, dengan ataupun tanpa Indonesia sebagai negara. Relasi negara dan rakyat itu terbentuk dari adanya musuh bersama (penjajah) serta harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Jika fungsi negara tersebut memang sudah tidak dapat dipenuhi lagi, dan setelahnya kehidupan mereka justru menjadi lebih buruk, bukankah wajar jika kemudian ada bagian dari dirinya yang ingin melepaskan diri dari relasi yang tidak impas tersebut? Timor Leste, Aceh dan Papua merupakan bukti nyata yang tidak dapat kita abaikan.

Jika masih ada orang-orang yang merasa bahwa gerakan separatisme merupakan sesuatu yang merusak persatuan bangsa, rasa nasionalisme dan sebagainya, coba dipikirkan ulang, bukankah mereka dapat berkata seperti itu karena mereka hidup di area yang nyaman, di area yang menjadi anak emas negara? Apa bedanya pemikiran tersebut dengan pola pikir penjajah yang menjadikan rasa persaudaraan sebagai topeng atas eksploitasi? Apakah negara memang telah memilih peran ‘orang tua tiri’ yang bermuka dua: di siang hari bermuka manis dan mengeruk keuntungan, sementara malamnya mencambuki sang anak? Dikritik sedikit minta pemakluman, bahwa tidak mudah mengatasi semua masalah di wilayah seluas Indonesia, bahwa pemerintah sudah berusaha sebaik mungkin, dan sebagainya. Bukankah mereka seharusnya paham sejak mula, bahwa memang tidak pernah mudah mengurus sebuah negara? Dan apa yang salah jika seorang anak yang merasa sanggup hidup mandiri kemudian hendak memilih jalan hidupnya sendiri? Mereka tak meminta apapun, bahkan ganti rugi atas semua yang telah diambil oleh orang tuanya pun tidak. Mereka hanya ingin lepas dari relasi yang menyakitkan.

Baiklah, mungkin analogi orang tua-anak menjadi demikian hierarkis, mari kita cari analogi yang lain, dimana masing-masing pihak memiliki nilai tawar yang sama. Relasi antara negara dan rakyat, yang dibangun atas dasar keinginan bersama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik itu, sebenarnya mirip juga dengan hubungan sepasang suami istri. Bukankah kedua belah pihak sama-sama sepakat untuk membangun sebuah lembaga demi kebahagiaan bersama? Kemudian apa yang salah ketika salah satu pihak justru merasa teraniaya dengan relasi tersebut dan menginginkan perceraian? Bukan, saya bukan hendak mendukung “perceraian” tersebut, hanya saja saya merasa, dalam kasus-kasus tertentu, bukankah perceraian justru menjadi jalan keluar? Misalnya dalam hubungan tersebut sering terjadi kekerasan, dan salah satu pihak telah demikian rusak secara fisik maupun mental. Apakah hubungan yang demikian masih layak dipertahankan atas nama “cinta”? Apakah salah ketika pihak yang teraniaya memilih untuk berpisah? Tidak, menurut saya.

Lalu bagaimana dengan negara yang gagal melindungi rakyatnya dari tindak penganiayaan oleh “tangannya” sendiri? Sudah terlalu banyak peristiwa mengenaskan yang terjadi di negara ini. Apa salah ketika pihak-pihak yang terluka itu memilih untuk memisahkan diri? Bagi saya, bahkan ada dan tidaknya negara tak lebih dari sebuah alat yang tujuan utamanya adalah kesejahteraan semua orang, jika memang hal tersebut tidak dapat terwujud, berhenti saja jadi negara. Paulo Coelho pernah berkata: “Love is joy. Don’t convince yourself that suffering is part of it.” Mencintai negara-atau apapun juga, seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan. Jika sebaliknya, maka jelas itu bukan cinta, atau kalaupun terpaksa disebut cinta, maka jelas ia berasal dari jenis yang buta, yang tentu saja akan membuat tersesat, mencari-cari di dalam gelap. Kemudian menggelapkan segalanya, seperti kata sebuah lagu milik Efek Rumah Kaca.