Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Cerita 6: Untuk Shivert Si Rubah dan Icha Si Panda

Beberapa hari lalu saya memutuskan untuk merapikan tampilan blog. Dalam proses sekitar satu jam itu, akhirnya saya juga memutuskan untuk “membersihkan” berbagai widget yang ada. Yang paling berat untuk saya hapus adalah widget virtual pet. Namun karena saya sudah memutuskan untuk membuat tampilan blog lebih rapi dan sederhana, jadi itu harus saya lakukan.

Berawal dari tahun 2011, Dea, pacar saya, pertama kali pamer virtual pet di blog miliknya, ia mengadopsi seekor rubah bernama Shivert sejak tahun 2008. Kemudian saya jadi ingin juga mengadopsi virtual pet di blog, hehe.

Saya memutuskan untuk mengadopsi seekor panda yang saya beri nama Icha, yah walaupun virtual, anggaplah ia betul-betul “seekor”. Saya sangat senang waktu itu, karena di kehidupan nyata, orang tua saya tidak mengizinkan saya memelihara hewan apapun di rumah. Setidaknya, sejak saya mengadopsi virtual pet di blog ini, saya jadi bisa merasakan sedikit-sedikit senangnya mengadopsi hewan, meskipun interaksinya sangat terbatas dan ia tidak benar-benar memiliki nyawa yang harus saya jaga.

Saya menamainya Icha karena itu merupakan nama panggilan adik saya yang suka sekali dengan panda, perawakan dan wajahnya pun mirip. Waktu ia kecil—saya lupa usia berapa bulan persisnya, ada sebuah momen di mana ia yang sedang tengkurap di tempat tidur tiba-tiba merangkak kemudian duduk untuk pertama kalinya. Saat itu ada saya, Ibu, dan kakak saya yang melihat. Ibu saya spontan nyeletuk “Weh, kayak panda.” Kami pun tertawa. Beberapa detik kemudian Icha menangis kencang sekali. Sampai saat ini kami tidak tahu apa yang menyebabkan ia menangis. Ketika ia dewasa dan kami ceritakan ulang padanya pun ia sama sekali tidak ingat (tentu saja). Mungkin waktu itu ia merasa ditertawakan. Makanya, ketika mendengar kata panda, yang pertama kali saya ingat adalah adik saya sendiri, Icha.

Widget virtual pet tersebut memiliki pilihan hewan berbeda-beda, dan tiap pilihan hewan memiliki pilihan interaksi yang berbeda pula. Kebetulan untuk jenis panda hanya memiliki satu pilihan interaksi selain pilihan ajakan bermain melalui klik kiri pada badannya (yang ada pada semua hewan), yaitu pilihan memberi makan daun bambu. Berbeda dengan Shivert, yang selain bisa kita beri makan daging, ia bisa juga kita beri bunga. Jika kita arahkan bunga kepadanya, ia akan mengendusnya dan muncul banyak tanda hati di sekitar kepalanya, yang menunjukkan bahwa ia suka.



Tahun lalu, saya lupa bulan apa, seiring dengan popularitasnya yang meningkat—ini bullying, Dea merasa perlu untuk merapikan tampilan blognya. Jadilah ia menghapus widget virtual pet di blognya, karena dirasa kurang pas dengan lay out baru yang ia pilih. Belum lama ini ia bahkan hijrah ke domain dot com, demi menciptakan kesan profesional katanya—ini juga bullying :p. Saya agak sedih ketika Shivert tidak ada lagi, padahal saya lumayan sering mengunjungi blog Dea bukan untuk membaca tulisannya, melainkan hanya untuk menengok Shivert dan memberi makan, bunga atau sekadar mengajaknya bermain dan melompat-lompat. Untuk menghibur saya, Dea bilang Shivert sudah cukup tua dan anggap saja sudah saatnya mati. Saya malah jadi tambah sedih :(

Namun sekarang saya sudah cukup mengerti, bahwa segalanya memiliki batas waktu. Dan sekarang adalah waktunya untuk membenahi dan merapikan blog ini agar lebih nyaman dibaca. Mungkin saja sebentar lagi saya malah bisa mengadopsi hewan sungguhan, hehe.

Untuk Shivert dan Icha, saya tidak tahu ke mana perginya makhluk virtual seperti kalian setelah mati, tapi semoga kalian baik-baik saja. Terima kasih sudah jadi penjaga blog kami beberapa tahun kemarin. Jangan lupa makan ya! :3


Saturday, February 18, 2012

Cerita 5: Lotek dan Ingatan Tentang Kakek

Aku sedang duduk sendirian menunggu pesananku datang, ketika kulihat seorang laki-laki berusia lima puluhan masuk ke warung ini kemudian memesan dua porsi lotek untuk dibawa pulang. Ia minta keduanya dibuat pedas sedang saja serta diberi kerupuk lebih banyak dari porsi biasa. Persis seperti apa yang selalu aku pesan, termasuk pada saat ini. Aku yang sedikit banyak percaya pada reinkarnasi dan hal-hal semacam itu menjadi terusik dengan kehadiran kakek ini. Ia langsung mengingatkanku pada mendiang kakekku. Dulu, ketika aku masih kecil aku tidak terlalu suka makan sayur, padahal jelas itu penting untuk pertumbuhan anak-anak seusiaku. Kakekku punya cara tersendiri untuk membujukku memakan sayur-sayur itu.

Setiap ada kesempatan menjemputku pulang dari sekolah, ia selalu mengajakku mampir ke warung lotek langganannya yang terletak tak jauh dari rumah. Ia membelikanku seporsi lotek yang dibuat pedas sedang saja dengan kerupuk yang banyak, karena ia tahu aku suka pedas dan sangat menyukai kerupuk. Sejak perkenalan pertamaku dengan lotek itulah, entah kenapa sayuran jadi terasa enak bagiku. Lotek dengan rasa bumbu kacang yang sedikit pedas serta kerupuk yang banyak selalu berhasil membuatku lupa akan ke-tidak-enak-an sayuran dan mau memakannya. Saat ini, meskipun kakekku sudah lama meninggal dunia dan warung lotek itu pun sudah tidak ada lagi, serta pacarku sering mencandaiku dengan berkata bahwa baginya lotek mirip dengan makanan ternak, namun lotek tetap menjadi salah satu makanan kesukaanku, makanan yang bisa sedikit mengobati rinduku pada kakek, makanan yang selalu membuatku merasa dekat dengannya.

PS: Jika ternyata kakek bisa membaca tulisanku ini entah bagaimana caranya, aku hanya ingin berkata bahwa aku selalu merindukan kakek. Aku selalu membayangkan perbincangan-perbincangan hangat yang mungkin saja terjadi di antara kita seandainya kakek masih hidup sampai saat ini dan bertemu dengan diriku yang sekarang: diriku yang sehat dan bahagia. Semoga kakek pun bahagia di manapun kakek berada ya, aku sayang padamu, kek :’)


*tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis "Makanan dan Kenangan" yang diselenggarakan oleh http://www.kenyangbego.wordpress.com pada bulan Februari 2012.

Thursday, February 16, 2012

Cerita 4: Suatu Sore Yang Persis Seperti (Sore) Ini

Pernahkah kalian merasakan sebuah suasana yang sama persis seperti apa yang pernah kalian rasakan jauh sebelumnya? Bukan, bukan seperti de ja vu yang persamaannya terletak pada peristiwa, melainkan perasaan nostalgik yang terletak pada suasananya: ruang dan waktu. Jika ya, mungkin apa yang kalian rasakan sama seperti apa yang kurasakan sore tadi, ketika langit begitu cerah, cahaya matahari perlahan mulai meredup, suara adzan ashar berkumandang, dan aku sedang tidak melakukan apa-apa. Rasanya hidup ini seperti mendapatkan jedanya untuk sekedar kembali teringat pada suasana yang persis sama kira-kira empat belas tahun silam.


Pada masa itu, aku yang berusia tujuh tahun selalu menanti-nanti datangnya sore hari, karena saat itulah saat yang paling menyenangkan untuk bermain bersama teman-teman. Cuaca cerah dan udara yang sejuk merupakan kombinasi sempurna untuk bermain di luar rumah, apalagi sesi tersebut merupakan tanda bahwa sesi-yang-tidak-menyenangkan sebelumnya telah berakhir (baca: sesi tidur siang). Ya, entah kenapa saat itu aku selalu membenci tidur siang.

 

Biasanya aku selalu mengawali sesi bermain sore itu dengan mandi terlebih dahulu, kemudian entah bagaimana, aku dan teman-temanku selalu saja bisa keluar rumah secara hampir bersamaan, untuk kemudian duduk-duduk di jalan kecil komplek perumahan kami. Ada macam-macam permainan yang biasa kami mainkan, semua tergantung pada musimnya. Pernah kami begitu gemar bermain lompat tali, namun pernah juga kami tak dapat berhenti bermain engklek (saya tidak tahu istilah bahasa Indonesianya), pernah pula kami hanya sekedar bermain bola bekel dan kelereng, atau naik sepeda menuju lapangan di sebelah masjid kemudian memanjat pohon jambu biji dan memakan buahnya.

Aktivitas berkumpul dan bermain di sore hari itu selalu menjadi agenda yang menyenangkan bagiku, rasanya hidup begitu ringan tanpa beban. Saat itu yang aku tahu hanyalah menghabiskan waktu dengan bermain, bahkan yang selalu membuatku bersemangat berangkat ke sekolah bukanlah pelajarannya, melainkan kesenangan saat bermain bersama teman-teman. Sore tadi aku merasakan kembali suasana itu, suasana yang membawa ingatanku pada perasaan bahagia kala itu. Perasaan yang semestinya tetap kujaga hingga saat ini dengan lebih banyak bersyukur. Mungkin aku yang sekarang memang sudah sangat jauh berbeda dengan aku empat belas tahun lalu, ibarat kertas, saat ini tentu saja sudah banyak coretan atau bahkan koyak, sobek  dan berlubang di sana-sini. Namun aku senang, setidaknya aku sempat merasa terlepas dari segala beban hanya dengan mengingat suatu sore yang persis seperti (sore) ini.

Sunday, January 9, 2011

Cerita 3: Another Story Ends


“Kamu masih sayang aku nggak sih?”

Dan gelengan kepalamu yang tanpa kata pun menjadi jawabannya.

End.

Aku tidak berkata bahwa aku kuat menghadapi ini. Aku hancur. Lebur.
Setidaknya untuk saat ini, dan semoga tak lama. Semoga.

“I'm back to the way I was when you weren't around” - Loquat
















Saturday, November 27, 2010

Cerita 2: Breaking Dawn

Add caption

Halo, selamat pagi. Sabtu pagi ini akhirnya berhasil memutuskan siklus setan yang membuatku bangun di atas jam 8 pagi selama beberapa hari kemarin. Aku bisa melihat pagi lagi. Bunga Sedap Malam pun melayu diiringi datangnya matahari.




Add caption

Thursday, November 18, 2010

Cerita 1: Ibu dan Anaknya

Ada yang menarik saat aku mengikuti sholat Idul Adha kemarin, 17 November 2010. Seperti biasa, usai sholat, para jamaah tak seluruhnya mendengarkan khotbah dengan khusyuk, begitu juga aku. Suara Imam yang memeerika khotbah hanya terdengar sayup-sayup dari shaf belakang, sedangkan suara tangis anak-anak kecil jauh lebih riuh dan menarik perhatianku.

Di shaf depanku agak ke kiri, kulihat dua orang anak perempuan yang sepertinya kakak beradik sedang bertengkar, sang adik memukul si kakak, lalu sang kakak meludahi si adik namun air ludahnya justru mengenai seorang perempuan yang sedari tadi sibuk memakaikan sepatu pada keduanya. Awalnya kukira perempuan itu adalah Ibu kedua anak tersebut, namun ternyata bukan. Perempuan itu adalah pengasuh dua anak itu, sedangkan Ibunya ada sebelahnya, sibuk merapikan rambut.

Ternyata, saat dua anak tadi bertengkar, mereka baru saja hendak pergi ke tukang balon di pinggir lapangan diantar oleh pengasuhnya, namun saat Ibunya mengetahui ulah si kakak yang meludah sembarangan, sang Ibu pun geram. Ia berkata pada pengasuh anaknya “Udah nggak jadi aja mbak, sini uangnya.” Kemudian ia mengambil uangnya kembali dan memasukkannya ke kotak amal. Si kakak pun cemberut, sungguh, wajah anak ini sangat mencerminkan bahwa ia badung, super badung! Hahahaha.

Dua anak ini pun kecewa karena tak jadi dibelikan balon, mereka bergelayut manja pada pengasuhnya-bukan pada Ibunya! Saat itu aku benar-benar merasa bahwa si pengasuh ini lebih cocok menjadi Ibu anak-anak itu. Si pengasuh pun hanya bisa menghibur sekenanya, tentu saja ia tak mungkin membelikan balon untuk keduanya menggunakan uangnya sendiri, salah-salah malah dipecat.

Yang menarik bagiku adalah bagaimana hubungan antara Ibu dan anak bisa demikian tergantikan oleh hubungan antara pengasuh dan anak. Jika melihat penampilan sang Ibu, sepertinya ia memang tipikal wanita karier yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga urusan mengasuh anak pun ia limpahkan pada pengasuh.

Cerita belum selesai, tak lama kemudian si Ibu pun luluh dan akhirnya dua anak ini dibelikan balon masing-masing satu. Setelah mendapatkan balon pun, mereka tetap lebih nyaman duduk berdampingan dengan si pengasuh dibangdingkan dengan Ibunya sendiri.

Selesai di sana, pandanganku teralih pada jamaah yang duduk tepat di depanku. Seorang ibu dengan jilbab lebar dan berkaus kaki, sedang khusyuk mendengarkan khotbah. Tiba-tiba datanglah tiga orang anak perempuan yang sepertinya kakak beradik. Anak yang paling besar membawa seplastik bakso goreng, kemudian dua orang adiknya mengikuti di belakangnya. Mereka bertiga duduk di sebelah ibunya lalu memakan bakso goreng yang hanya satu bungkus itu secara bergantian, mulai dari anak yang paling tua kemudian adik-adiknya.

Aku gemas melihat ekspresi wajah si adik bungsu, yang dengan penuh harap melihat ke arah kakaknya yang tengah mendapat giliran makan. Mereka akur, tak ada yang memancing keributan.

Si sulung tampaknya berhasil memberi teladan pada adiknya, bagaimana caranya berbagi dengan saudara. Sampai pada saat bakso goreng yang terakhir dilahap oleh si bungsu, mereka semua tertawa tanpa ada satu pun yang iri dan merasa mendapat jatah lebih sedikit dibanding lainnya.

Khotbah pun usai, sang Ibu berjilbab lebar tadi mengemasi sajadah dan alas sholat mereka, kemudian menggandeng si bungsu. Sedangkan si sulung menggandeng si tengah. Mereka meninggalkan lapangan dengan tertib tanpa ada tangisan rewel ataupun bentakan Ibu.

Aku mendapat dua gambaran yang kontradiktif hari ini, dan aku belajar satu hal penting: seorang anak bisa saja kehilangan kedekatan dengan ibu kandungnya sendiri.

Yah, semoga kelak aku bisa menjadi Ibu yang dekat dengan anak-anakku, amin.