Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, January 23, 2015

Kutukan yang Terlambat Datang

Dua puluh hari berlalu sejak pesan terakhir yang kukirimkan padamu—entah kau membacanya atau tidak. Isinya kira-kira seperti ini: aku tidak tahu apa yang kau alami di kota lain yang berjarak ratusan kilometer dari kotaku ini, namun satu hal yang pasti, aku bersedia menunggumu menjawab pesanku lagi.

Empat puluh hari berlalu sejak pertama kali aku merasa ada yang berubah dari perangaimu. Dengan media komunikasi yang terbatas dan jarak yang nyata, sungguh, aku tak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengusahakan usaha paling maksimal yang dapat dilakukan manusia dalam kondisi seperti itu, namun rasanya itu tak mengubah apa-apa.

Segala hal tentangmu yang kukenali dan kukumpulkan sebagai fragmen pembentuk sosokmu perlahan hilang dan kau berubah menjadi bentuk yang asing. Bentuk yang tak pernah kubayangkan muncul dari dirimu, setidaknya dalam kurun nyaris lima tahun terakhir. Nyaris lima tahun telah kita lalui bersama-sama. Aku selalu bisa menebakmu. Aku selalu bisa memberitahumu, siapa saja perempuan di sekitarmu yang diam-diam jatuh cinta padamu, meskipun mereka tak bisa melakukan apa-apa. Karena mereka tahu mereka takkan bisa membuatmu jatuh cinta. Mereka tak bisa menjadi aku.

Namun kemampuanku membacamu ternyata memiliki batas. Perbedaan kota yang kita tinggali sungguh menyulitkanku dalam kondisi seperti ini. Aku bukanlah cenayang yang sungguh-sungguh dapat menerawang segala hal tentangmu, aku hanya terlahir dengan kadar kepekaan melebihi manusia biasa, sehingga aku lebih sensitif terhadap tanda-tanda. Namun dengan jarak sejauh ini, apa yang bisa kuharapkan? Tak ada yang terlihat.

Akhirnya aku menunggu, kutahan selama mungkin rasa penasaran yang menggerogoti pikiranku. Kau tahu betul ya bagaimana cara terbaik menyiksaku, orang yang demikian mudah jatuh penasaran ini. Hari-hari kuhabiskan dengan melakukan apapun yang dapat mengalihkanku dari dugaan-dugaan tak menentu akan keberadaanmu, dan yang lebih penting, perasaanmu padaku. Selama dua puluh hari aku berusaha menghubungimu entah berapa kali lewat pesan pendek, lewat telepon yang tak kau angkat—atau kalaupun kau angkat, hanya satu dua kata yang keluar dari mulutmu seperti “Aku sibuk,” atau “Nanti saja kutelpon,” sebelum kemudian kau matikan begitu saja telepon dariku, tanpa peduli sedikitpun padaku yang melongo bersama dengan nada telepon yang putus.

Dan aku tahu betul, setelah nada-nada itu selesai, tak pernah ada telepon darimu. Hingga akhirnya, setelah dua puluh hari berusaha semampuku, kuputuskan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat untukmu: “Hadiah terbaik yang bisa kuberikan adalah waktu. Ketahuilah, mulai hari ini aku hanya akan menunggumu mau bicara padaku lagi. Dua puluh hari telah kugunakan untuk melakukan semua yang bisa kulakukan, dan kurasa sekarang saatnya aku diam. Jika ada hal-hal yang meresahkanmu, gunakanlah waktu ini untuk menyelesaikan keresahan-keresahan itu. Kau tahu aku selalu ada di tempat yang sama.”

Selama dua puluh hari setelahnya, tak ada satu pun jawaban darimu. Di kantor, aku dikatai zombie oleh teman-temanku. Kata mereka, meskipun pekerjaanku tak ada yang meleset, namun tampangku lama-lama jadi tak mirip manusia. Seperti hanya cangkang tanpa jiwa, yang menurut saja mengerjakan apa-apa yang memang seharusnya dikerjakan, namun akalnya berhenti bekerja. Mereka sampai kehabisan akal untuk membuatku tertawa. Satu-satunya hal yang masih bisa menghiburku dan paling tidak membuat tawaku pecah—meski sedikit—adalah obrolan ringan bersama mereka selepas jam kantor dan sedikit lembur. Dua puluh malam berturut-turut kami pergi minum bir di Ox’s, mereka bergantian mentraktirku, melarangku membayar apapun, seolah-olah kesedihan telah membuatku jatuh miskin. Mereka menikmati sekali kesempatan ini, kesempatan untuk mengejekku yang sangat jarang datang. Sialan. Tapi aku cukup senang, di kota yang kacau ini ternyata masih ada orang-orang gila yang memikirkan betul kondisi teman sekantornya, meskipun dengan cara yang aneh.

Walapun terdengar menyedihkan seperti anak remaja yang kehilangan arah, namun aku tidak pernah minum sampai mabuk. Aku bukan orang yang bersedia kehilangan kendali atas diriku. Selalu ada batas yang bisa kuketahui, kapan waktunya meneguk gelas terakhir. Lagipula, bir buatan Ox’s memiliki kadar alkohol yang lebih sedikit dibandingkan bir kalengan. Konon pemiliknya memang ingin memperkenalkan sebuah terobosan baru: menciptakan bir untuk peminum pemula. Entah bagaimana caranya, mereka bisa membuat bir dengan kadar alkohol yang lebih sedikit ketimbang bir kalengan. Dengan terobosannya itu, mereka juga menjadi tempat minum pertama di kota ini yang menjual home made beer. Aku sudah pernah menceritakannya padamu, walaupun kita belum sempat ke sini bersama-sama.

Selama dua puluh hari itu, kesadaranku berada di antara keinginan untuk melupakan dan merelakan segalanya, termasuk tahun-tahun panjang yang kita lalui bersama, dengan keinginan untuk terus memegang erat segala kemungkinan di luar itu. Mulanya aku lebih mengkhawatirkan apa yang kau alami di sana ketimbang perasaanku sendiri. Hal segawat apakah yang telah menimpamu sehingga kau memutuskan untuk menghindariku dan bukannya berbagi denganku? Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.

Namun belakangan aku mulai dapat merasakan lukaku sendiri. Ketika di tengah keheningan ini aku melihatmu masih aktif mengecek dan berbincang dengan orang lain di media sosial, seperti tidak sedang mengalami hal buruk apapun. Aku jadi merasa sangat tolol telah memikirkanmu begitu serius. Mau apa lagi, kita adalah generasi yang dikutuk teknologi. Setelah berusaha menahan air mata yang hendak menjejalkan dirinya keluar dari pelupuk mataku, aku mematikan telepon genggam. Aku tak suka kehilangan kendali atas diriku, lebih-lebih pada tiga puluh menit menjelang rapat redaksi mingguan.

Terdengar musik 光とど dari kubikel Sam yang terletak beberapa meter dariku, tampaknya aku berhasil meracuni selera musiknya. Kunikmati saja suara sayup album “The Joys In Not Knowing” itu sambil merebahkan kepala di atas meja. Aku tidak ingin memikirkan apapun, aku tidak ingin mencari tahu apapun lagi.

***

Aku memutuskan untuk mengambil cuti selama dua minggu, dan saat ini sudah memasuki awal minggu kedua. Tidak buruk, seminggu kemarin kuhabiskan untuk membereskan rumah yang sudah seperti pengungsian korban banjir. Bahkan aku mulai membuat rancangan furniturku sendiri. Menarik menemukan ide-ide desain do it yourself di internet, ketimbang menghabiskan tabunganmu untuk berbelanja di toko furnitur mahal. Rasanya seperti kembali ke masa-masa ketika aku masih kuliah. Yah, sudah berapa tahun aku tak pernah berhubungan langsung dengan desain interior, karena tentu saja jika kau bekerja di majalah mingguan untuk perempuan, pengetahuan tersebut tidak diperlukan.

Aku jadi teringat sebuah kursi berbentuk kepompong yang dulu sama-sama kita lihat ketika jalan-jalan ke toko furnitur di sebuah pusat perbelanjaan. Kau tampak sangat senang mencoba kursi itu, sampai-sampai petugas toko mengingatkan kita untuk hati-hati mencobanya. Di saat-saat seperti itu, kau tak ubahnya anak kecil yang berbinar matanya, apalagi wajahmu memang seolah tak pernah bisa bertambah tua.

Kursi kepompong itu kita gambar ulang (atau lebih tepatnya aku, karena kau sama sekali tak bisa menggambar) sepulang dari jalan-jalan, karena kita tidak ingin melupakan kursi yang kita inginkan jika kelak kita punya cukup uang. Dan sekarang gambar itu secara tak sengaja kutemukan di antara lembar-lembar gambar yang lain. Entah mengapa, tanpa sadar aku mulai membuat rancangan yang lebih serius dan detail untuk kursi tersebut. Dan sepertinya besok aku akan mulai mencari materialnya. Aku ingin mencoba membuat kursi itu.

Sejak pesan terakhir yang kukirimkan padamu, sudah dua puluh tujuh hari berlalu. Aku tidak menyangka aku bisa melewatinya. Sekarang ini bisa dikatakan aku telah mencapai fase tidak mau ambil pusing. Aku bahkan bisa membayangkan perpisahan kita tanpa harus menangis. Bisa saja aku memanfaatkan cutiku untuk pergi ke kotamu dan mendatangimu, namun aku memilih tidak melakukannya. Kaulah yang pergi meninggalkanku, jika kau ingin pulang, pulanglah. Aku merasa ada batas yang tegas antara memperjuangkan apa yang berharga bagi dirimu atau mengorbankan dirimu sendiri untuk hal yang terlihat berharga hanya karena kau telah memilikinya dalam waktu lama. Ya, nyaris lima tahun tentu tidak bisa dibilang sebentar.

Pernah ada yang berkata padaku, tahun ketiga dalam sebuah hubungan merupakan salah satu titik terberat yang rawan konflik besar berujung perpisahan. Mungkin kita dapat mengandaikannya sebagai sebuah check point. Jika kita berhasil melewatinya, maka bolehlah merasa lega hingga tiga tahun berikutnya. Begitu seterusnya.

Kenapa tiga tahun? Entahlah, mungkin ia hanya mengamati dari yang sudah-sudah lalu mengambil konklusi, bahwa pasangan yang memasuki tahun ketiga sangat rawan berpisah, ketika terdapat masalah mendasar yang tak kunjung selesai—atau setidaknya disepakati untuk selesai.

Namun kenyataannya tak sesederhana itu. Bukan hanya perkara sebuah masalah selesai atau tak selesai, yang lebih rumit justru, bagaimana jika perasaannya belum selesai? Jika hanya melihat masalah-masalah dalam hubungan, semuanya jadi lebih sederhana. Masalah tak kunjung selesai, bisa dikatakan hubungan sulit berlanjut. Masalah selesai, berarti hubungan bisa berlanjut.

Jika masalah tak kunjung selesai, seharusnya hubungan tak dianjutkan. Tapi masalah tak kunjung selesai dan perasaan yang juga belum selesai akan melahirkan pilihan-pilihan yang sulit. Pilihan mengakhiri hubungan menjadi pilihan yang sulit karena perasaan kita akan terluka. Kehilangan. Kesepian. Rasa takut menghadapi hal-hal itulah yang biasanya mencegah—atau setidaknya memikirkan ulang—keputusan untuk mengakhiri sebuah hubungan.

Kita pernah membicarakan hal ini panjang lebar, saat itu tahun keempat usia hubungan kita. Kita membicarakan hal itu sambil tertawa-tawa, seolah kita termasuk dalam golongan yang telah berhasil melewati check point pertama dan tahun keempat merupakan masa yang bisa dilalui dengan santai. Memang benar tahun keempat kita lalui dengan santai, sebagian besar masalah dan proses penyesuaian diri antar-individu telah kita selesaikan di tiga tahun pertama. Namun ternyata di akhir tahun keempat, kau mendapatkan pekerjaan di kota lain. Pekerjaan yang telah lama kau inginkan jika dibandingkan dengan pekerjaanmu di kota ini. Aku ikut senang. Apa yang layak dikhawatirkan dari hubungan jarak jauh bagi pasangan yang telah mengalahkan kutukan tahun ketiga?

***

Empat puluh hari berlalu sejak pesan terakhir yang kukirimkan padamu—entah kau membacanya atau tidak. Besok merupakan hari di mana kita seharusnya merayakan tahun kelima kita bersama, namun tak ada tanda-tanda kau masih menganggap hubungan ini ada. Kursi kepompong bergoyang-goyang, meskipun tak ada angin yang bertiup dari jendela. Aku berhasil menyelesaikannya selama satu minggu terakhir cutiku. Cukup nyaman diduduki, walaupun pasti ada satu-dua kekurangan jika dibandingkan dengan kursi aslinya.

Telepon genggamku berbunyi. Fotomu muncul bersama dengan nomormu, kau menelepon. Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku sangat takut. Aku tidak berani mengangkatnya hanya untuk mendengar suaramu yang berkata ingin mengakhiri hubungan. Entahlah, aku hanya merasa telepon darimu jelas hanya akan menyampaikan kabar buruk. Aku membiarkannya saja hingga mati sendiri. Beberapa menit kemudian kau kembali menelepon. Aku kembali mendiamkannya. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan padamu? Apa aku harus berkata “Halo, apa kabar?”, ah tentu tidak. Tidak. Bagaimana kalau aku menangis mendengar suaramu? Aku tidak ingin menangis. Aku tidak suka ketika aku harus menangis.

Kupasang earphone di telingaku dan kuputar musik apapun sekeras-kerasnya. Aku tidak ingin mendengar bunyi telepon, tapi tidak ingin mematikannya. Aku ingin kau mengalami bagaimana rasanya menelepon ratusan kali namun tidak kunjung diangkat.

Let's just forget
Everything said
And everything we did
Best friends and better halves

Pemutar musikku memainkan salah satu lagu kesukaanmu, baru kali ini aku benar-benar mendengarkan liriknya.

Goodbyes
And the autumn night
When we realized
We were falling out of love

There were some things
That were said
That weren't meant
But were said

Like we never did
Not to be
Overly
Dramatic

I just think it's best
'Cause you can't miss what you forget

Kulihat lampu kecil di sudut telepon genggamku berkedip. Tanda sebuah pesan masuk. Darimu. Sambil tetap mengenakan earphone, kubuka pesan itu. Hanya sebuah kalimat singkat: “Kita putus saja, ya? Aku lelah, kurasa kau pun demikian.”

Pemutar musik masih memainkan lagu yang sama, seperti kau sendiri yang menyanyikannya untukku.

So let's just pretend
Everything and anything
Between you and me
Was never meant* 



*“Never Meant”, sebuah lagu dari band asal Amerika, American Football 

Saturday, February 25, 2012

Perempuan Tanpa Masa Lalu

Aku tahu, saat ini kau pasti sedang membakar semuanya. Semua pemberianku selama ini: surat-surat itu, buku-buku hadiah ulang tahunmu, beberapa sobekan tiket bioskop, kepingan CD rekaman lagu, gantungan kunci, gelang.... semuanya. Aku tahu sekarang kau sedang membakarnya di halaman belakang rumahmu, di mana aku pernah menyaksikan upacara kremasi terhadap masa lalumu yang lain. Aku tahu kau sedang membakar semuanya, membiarkan semua itu jadi abu dan berlalu bersama waktu yang kian petang. Aku tahu kau sedang melakukannya dengan tenang, tanpa air mata dan sedikitpun penyesalan. 

Sementara aku di sini menghisap rokokku dalam-dalam, memandangi kertas surat berwarna coklat tua yang tertempel di dinding kamarku, serta sepasang sepatu berwarna biru, yang menjadi penyebab segala kecewamu. Siapa yang salah? Entah. Mungkin ini salahku, karena terus saja menyimpan dua benda itu, apalagi meletakkannya bersama dengan benda-benda pemberianmu. Mungkin ini juga salahmu, yang selalu melarangku membuangnya jika hanya demi dirimu, tapi kecewa saat tahu jika bukan demi dirimu, maka benda itu akan tetap berada di sana. Kau menginginkanku untuk membuangnya atas keinginanku sendiri, padahal kau tahu betul, aku tak pernah ingin membuangnya. Bukan karena aku masih mencintai perempuan itu-perempuan yang memberiku benda-benda itu, melainkan karena aku tak pernah punya masalah dengan keberadaan benda-benda dari masa lalu, sehingga aku pun masih menyimpannya sampai sekarang, hanya untuk sesekali mengenang segala yang pernah kulalui, kemudian melampauinya, tanpa meninggalkan bekas-bekas yang tak pernah tuntas.

Berbeda denganmu, yang memang sejak dulu selalu melenyapkan semua benda peninggalan masa lalumu, segera setelah semuanya berakhir. “Aku ingin menjalani hari-hari setelahnya sebagai orang yang benar-benar baru, aku tak membutuhkan benda-benda seperti itu. Masa lalu cukup kusimpan dalam ingatan. Lagipula, aku tak ingin menyakiti orang yang sekarang bersamaku,” ucapmu padaku.
Aku ingat ketika suatu hari kau sibuk mencari surat-surat yang kau tujukan untuk mantan kekasihmu-surat-surat yang tak pernah kau kirimkan itu, dan ternyata ia kutemukan di antara halaman bukumu yang sedang kubaca. Kau langsung merebutnya. Aku bilang aku ingin membacanya. Kau bertanya apakah aku yakin. Aku menjawab ya. Kau memberikannya padaku sambil berkata “Jangan lama-lama, setelah selesai kau baca aku akan segera membakarnya.” Aku berkata kau tak perlu membakarnya karena aku, aku tak pernah cemburu pada hal-hal seperti ini. Kau bilang semua itu demi dirimu sendiri. 

Tenggelam - Raisa Kamila
Dan memang benar, setelah aku selesai membacanya, kau segera memasukkan surat-surat tak terkirim itu ke dalam sebuah kaleng biskuit yang tampak hangus di sana sini, seperti sebuah tanda bahwa ia sudah biasa kau gunakan sebagai tempat kremasi masa lalumu yang sebelumnya. Kemudian kau memasukkan minyak tanah, dan membakarnya di hadapanku. Semua itu kau lakukan dengan tenang, sangat tenang. Tak tampak penyesalan sedikitpun pada raut wajahmu yang tegas. Semua datar, seperti tidak sedang kehilangan apapun. Aku sendiri hanya berdiri mematung melihat itu semua. 

Aku tak pernah bisa mengerti mengapa kau harus selalu mengambil keputusan-keputusan yang ekstrim dalam berbagai hal, seolah-olah jalan tengah memang tak pernah ada dalam kamus hidupmu. “Segalanya atau tidak sama sekali,” kalimat itulah yang selalu kau andalkan untuk menyuruhku berhenti bertanya. Aku tetap saja masih tak bisa mengerti. Sama seperti dirimu yang tak pernah bisa mengerti mengapa aku selalu menghindari konfrontasi, meskipun karena itu terkadang aku seperti diharuskan mengambil jalan memutar. Bagimu, konfrontasi adalah bagian dari risiko jika kita ingin mempertahankan prinsip. Yah, dalam hal ini kita memang selalu gagal untuk saling memahami. 

Aku begitu yakin, ketika kau selesai dengan upacara kremasimu sore ini, selanjutnya kau akan mengganti namaku di buku telepon ponselmu dengan nama biasa, tak ada lagi panggilan istimewa. Aku yakin sekali. Kemudian keesokan harinya kau akan memotong rambutmu, menggantinya dengan model baru yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya serta mengubah gaya berpakaianmu. Kau berusaha untuk terlahir kembali, meletakkan dirimu yang dulu bersamaku pada keranjang masa lalu. Begitulah caramu mengakhiri sesuatu, selalu begitu. Kau adalah perempuan tanpa masa lalu, atau setidaknya, kau berusaha untuk menjadi seperti itu. Bagimu masa lalu hanya akan melahirkan luka-luka berkepanjangan yang tak akan membawamu ke mana-mana selain pada tangisan-tangisan yang tak bisa kau hentikan setiap malamnya. 

Kertas surat berwarna coklat tua itu masih terletak pada tempatnya semula, seperti sejak pertama kali kau mempermasalahkannya. Pada pertengkaran besar itu, aku berkata bahwa nanti surat itu akan kusimpan di tempat yang tidak terlihat, sehingga ia tidak akan membangkitkan kesedihanmu lagi. “Kesedihanku akan kusimpan juga di tempat yang tidak terlihat...” katamu menjawab tawaranku. Aku memohon padamu jangan bersikap seperti itu. Namun kau tetap bersikeras hanya itu yang dapat kau lakukan, hanya itu yang dapat kita lakukan, kita sembunyikan saja semuanya masing-masing. Aku terdiam. Kita saling terdiam. Aku kehabisan cara untuk membuatmu percaya bahwa surat itu hanyalah benda, yang tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan rasa cintaku padamu. Aku kehabisan cara untuk membuatmu mengerti bahwa tidak semua orang memperlakukan masa lalu sebagaimana dirimu memperlakukannya. Aku putus asa. “Kamu lelah?” suaramu memecah kesunyian. Aku menjawab ya. “Baiklah, aku pun lelah,” ucapmu sambil berlalu. Tanpa banyak bertanya pun aku mengerti, bahwa kau tak akan pernah kembali lagi.

Yogyakarta, 18 Januari 2012

Monday, February 13, 2012

Pagi Yang Terulang Kembali

“Besok pagi hujan tidak ya?” tanyamu malam itu. Aku diam sejenak, berpikir. Kulihat pandangan matamu bergerak ke arah jendela yang tertutup rapat.

“Mungkin saja. Cuaca memang sudah tidak memiliki musim, bukan?” jawabku.

“Hmm... ya, betul juga. Tapi aku butuh jawaban yang pasti, apakah besok pagi hujan atau tidak. Bukan jawaban seperti ‘mungkin’.” sanggahmu kemudian, seperti tak puas dengan jawabanku.

“Aku tidak tahu, sayang. Tak ada yang bisa memastikan hal-hal seperti itu. Lagipula, mengapa kau sangat butuh tahu?” tanyaku.

“Aku ingin memastikan sesuatu....” kata-katamu seperti sengaja kau hentikan, kerling matamu menandakan bahwa kau ragu untuk melanjutkan.

“Memastikan apa?” ucapku tepat sasaran.

“Mmmm.... memastikan bahwa hujan akan selalu turun bersama kesedihan....” jawabmu.

“Kata siapa? Bukankah hujan selalu turun sebagai berkah?” ucapku sambil mengernyitkan dahi, tak mengerti apa maksudmu.

“Nenekku pernah berkata seperti itu saat aku masih kecil. Katanya, alam semesta memiliki keterikatan yang kuat dengan sebagian orang, termasuk orang-orang dari keluarga kami.” kau menjelaskan.

“Oh ya? Memangnya besok siapa yang kira-kira akan bersedih, sehingga hujan mungkin saja datang?” tanyaku penasaran, masih belum dapat memahami maksudmu yang sebenarnya.

“Tidak tahu. Aku hanya bertanya saja. Ah sudahlah, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur kan?” ucapmu sambil beranjak, mengakhiri pembicaraan. Lalu kita telah sama-sama berada pada satu ranjang, bersiap untuk tidur. Aku mencium keningmu, kau memelukku. Tak lama kemudian aku tahu kau telah terlelap, sedangkan aku justru larut dalam pikiranku sendiri.

Semuanya seperti berjalan begitu cepat, mulai dari pertama kali aku mengenalmu, tragedi besar itu, kemudian ketika kita memutuskan untuk tinggal bersama, meskipun tanpa ikatan bernama pernikahan. Kau yang dulu begitu rapuh, begitu hancur dan seolah tak mempunyai harapan pada apapun, lambat laun dapat menerima kehadiranku-seseorang yang telah lama mencintaimu. Bersamaku kau mencoba menata ulang hidupmu, setelah kehilangan begitu banyak hal, termasuk kekasih yang sangat kau cintai.

Kau yang dulu begitu menyesali bencana yang menimpa keluarga dan kekasihmu itu, sehingga duniamu menjadi begitu gelap, begitu pekat, seolah keriangan tak lagi mendapat tempat. Kemudian kita berdua yang sama-sama membangun kembali dunia yang bisa kau percaya, yang mampu menumbuhkan kembali cahaya kehidupan di matamu. Serta aku yang terus berusaha meyakinkanmu bahwa kau tak perlu mencoba terlalu keras untuk belajar membalas cintaku, dan bahwa semua itu kulakukan semata-mata karena aku tulus mencintaimu. Kemudian pelan-pelan kau belajar untuk balas mencintaiku dan mengobati luka-luka masa lalumu. Hingga akhirnya kau benar-benar yakin bahwa kau telah sembuh. Sepenuhnya sembuh.

Jendela Pagi Hari - Ipul Bachri
Ya, semuanya seperti berjalan begitu cepat. Terkadang aku masih merasa aku sedang bermimpi, dan tak tahu kapan petir akan datang menghampiri. Tahun-tahun yang kita lalui itu, seperti guguran daun-daun yang tersapu begitu saja oleh angin, mengendap pada sudut-sudut taman, kemudian lapuk bersama hujan. Dan tahu-tahu sudah ada lagi daun-daun lain yang berguguran.

Pikiranku melayang, membuat mataku tak kunjung dapat terpejam, meski rasa lelah demikian nyata bersarang dalam sendi-sendi tubuhku. Entah mengapa, kata-katamu tentang hujan dan kesedihan seperti sekelebat malaikat yang memberi tanda bahwa mimpi ini akan segera terjaga. Namun kesedihan siapakah yang hendak mendatangkan hujan? Kau tampak begitu bahagia setelah melewati tahun-tahun yang seperti daun gugur itu. Kau sehat, bersemangat, dan optimis menghadapi hidup. Kau memiliki pekerjaan yang sangat kau sukai sebagai seorang pelukis, yang selalu kau jalani dengan gembira. Begitupun aku, yang selalu bahagia saat melihatmu bahagia. Hidup kita nyaris sempurna, seolah dunia yang kita tinggali merupakan bagian terpisah dari dunia di luar sana. Acuh terhadap apapun selain prinsip kita yang sederhana: selama tak merusak kebahagiaan orang lain, kita berhak melakukan apa saja. Begitupun dengan pernikahan, kita sama-sama sepakat bahwa cinta yang diberikan Tuhan tak harus bermuara pada lembaga-lembaga buatan manusia seperti pernikahan. Kita manusia bebas.

Namun sekali lagi, aku pun tak mengerti mengapa kata-katamu tentang hujan dan kesedihan demikian menghantui. Apalagi belakangan ini kau memang sering melukis hujan, aku melihatnya saat mengintip ruang kerjamu diam-diam. Apa gerangan yang sedang kau pikirkan, kekasih? Aku mencoba mencari jawabannya di wajahmu, wajahmu yang lugu itu. Aku mencoba mengingat lagi sorot matamu, dan apa yang terpantulkan olehnya. Aku mengamati kau yang sedang tertidur di sampingku, memberikan belaian lembut pada rambutmu yang tak pernah kau biarkan tumbuh panjang melewati tengkuk. Kemudian kau bergumam pelan: “Hujan akan datang”. Aku terkejut dan bertambah takut, namun akhirnya kegelapan menyelimuti mataku. Kantuk telah mengalahkan keresahan, membawaku tidur bersama tanda tanya besar.

Hari ini, aku mengenang kembali semua itu. Masih di ruangan yang sama ketika percakapan terakhir kita terjadi. Percakapan tentang hujan dan kesedihan. Namun kali ini aku sendirian, tak ada lagi percakapan-percakapan yang kita lakukan setelah malam itu, karena keesokan harinya, kau telah pergi bersamaan dengan hujan yang datang perlahan. Meninggalkan secarik kertas yang hanya bertuliskan satu kalimat: belajar mencintai seseorang ternyata mustahil, maka belajarlah mencari seseorang yang benar-benar jatuh cinta padamu. Aku pun mengerti mengapa hujan datang di pagi itu...... Namun satu hal yang tak kunjung kumengerti hingga saat ini, kesedihan siapakah yang membuatnya datang pagi itu? Kesedihanmu? Kesedihanku? Karena sejak saat itu pun aku selalu menangis di pagi hari, bersamaan dengan hujan yang datang berulang-ulang.

Yogyakarta, 8 Desember 2011